Ustadz Afdholi Ali Rahman, MA

Takwa merupakan prestasi tertinggi yang dicapai oleh seorang mukmin dalam penghambaannya kepada Allah SWT. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu”. (QS Al-Hujurat ayat 13).

Jaminan bagi orang yang bertakwa adalah kehidupan di surga yang dipenuhi oleh berbagai kenikmatan.  Allah Swt berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)

Pengertian Takwa

Pengertian takwa sering disampaikan oleh para khatib shalat Jum’at, yaitu bahwa untuk menjadi orang yang bertakwa kita harus senantiasa melaksanakan segala yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangan-laranganNya.   

Dalam ilmu fiqih, “perintah” Allah itu hukumnya wajib, sedangkan “larangan” Allah itu hukumnya haram. Bila pengertian takwa seperti yang disampaikan beberapa khatib Jum’at, maka orang bertakwa hanyalah melaksanakan yang “wajib” (diperintahkan), dan menghindari yang “haram” (dilarang) saja.  Padahal selain wajib dan haram ada hukum lain, yaitu “sunah” (sebaiknya dilakukan)  dan “makruh” (sebaiknya tidak dilakukan), serta “mubah” (boleh boleh saja dilakukan).

Pengertian takwa seperti yang disampaikan oleh para khatib shalat Jum’at, menurut hemat penulis tentu kurang tepat.  Pengertian yang lebih tepat yaitu takwa adalah upaya untuk senantiasa melaksanakan segala perbuatan yang “disukai Allah” dan menghindari perbuatan yang “tidak disukai Allah”.

Perbuatan yang disukai oleh Allah itu ada dua, yaitu yang hukumnya wajib (diperintahkan) dan ada pula yang sunah (sebaiknya dilakukan).  Sedangkan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah itu juga ada dua, yaitu yang hukumnya haram (dilarang), dan ada pula yang makruh (sebaiknya ditinggalkan dilakukan).

Prilaku seperti jujur, adil, peduli, tanggung jawab, sederhana dan ramah adalah prilaku yang “disukai” oleh Allah, meskipun tidak diwajibkan. Prilaku tersebut secara fiqih hukumnya sunah.  Sedangkan sikap apatis, serakah, sombong,  kikir, tidak sopan, atau makan jengkol yang menimbulkan aroma tak sedap adalah adalah prilaku yang “tidak disukai” oleh Allah, meskipun tidak diharamkan. Prilaku tersebut secara fiqih hukumnya makruh.  

Takwa dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Quran terdapat tidak kurang dari 208 ayat yang berkaitan dengan takwa, antara lain terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 3, 177 & 183, kemudian pada surat Ali Imran ayat 17 & 134, dan pada surat Adz-Dzariat ayat 17-19.

Pada ayat-ayat tersebut diterangkan pengertian takwa adalah: 

Pertama, Mereka yg bertakwa yaitu yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki (QS. Al Baqarah, ayat 2-3).

Kedua, orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya, dan yang memohon ampun di waktu sahur (QS. Ali Imran, ayat 17). 

Dan ketiga, orang yang bertakwa adalah yang berbuat kebajikan, yaitu menafkahkan hartanya (baik di waktu lapang maupun sempit), menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang (QS. Ali Imran, ayat 134).

Sesuai ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an tersebut, dapat dirangkum bahwa orang yang bertakwa itu adalah orang yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, nabi-nabi, kitab-kitab, dan kehidupan akhirat, juga yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa, dan haji, serta yang sabar (dalam menghadapi kesulitan), menahan amarah, memaafkan (kesalahan orang lain), dan menepati janji. 

Singkatnya orang yang bertakwa adalah orang yang memegang teguh Rukun Iman dan Rukun Islam, serta senantiasa beramal shalih dan berbuat kebajikan.

Lima Ciri Orang Bertakwa

Dari keseluruhan ayat-ayat takwa dalam Al-Qur’an, diperoleh suatu kesimpulan tentang ciri-ciri khusus bagi orang yang bertakwa. Setidaknya ada lima ciri-ciri khusus orang bertakwa, yaitu:  (1) Dermawan, (2) Sabar, (3) Mampu menahan amarah, (4) Mudah memaafkan, dan (5) Suka shalat malam.

Ciri khusus pertama bagi orang bertakwa adalah dermawan, yaitu mereka yang suka berinfak baik dalam keadaan lapang maupun susah. Kedermawanan itu merupakan suatu bentuk kepedulian sosial (dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat: 3 dan177 ; Surat Ali Imran ayat: 15-17 dan 133-134 ; dan Surat Az-Zariyat ayat: 15-19).

Kemudian, ciri khusus kedua adalah sabar, yaitu mereka yang senantiasa tahan terhadap berbagai penderitaan dan kesulitan (dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat : 177).  Selanjutnya, ciri khusus ketiga adalah mereka yang mampu menahan marah manakala bisa melampiaskannya (dijelaskan dalam Surat Ali Imran ayat: 134).

Berikutnya ciri khusus keempat adalah mudah memaafkan, yaitu mereka yang bisa secara tulus memaafkan orang-orang yang pernah menyakitinya. (Surat Ali Imran ayat: 134).  Dan ciri khusus kelima bagi orang bertakwa adalah mereka suka shalat malam dan banyak ber Istighfar (dijelaskan dalam Surat Az-Zariyat ayat: 17-18 ; dan Surat Ali Imran ayat: 17).

Kelima ciri-ciri tersebut bisa dijadikan sebagai alat indikator untuk menakar tingkat ketakwaan seseorang kepada Allah SWT, terutama untuk pribadi kita sendiri.   Meskipun seseorang telah rajin shalat lima waktu, tekun dalam berdzikir dan sering berpuasa sunah, namun apabila dia masih pelit dalam bersedekah atau kepedulian sosialnya masih sangat rendah maka itu pertanda bahwa ketakwaannya masih diragukan.

Demikian pula apabila seseorang masih suka marah-marah, suka mengeluh (tidak sabar), atau masih sulit memaafkan kesalahan orang lain  , maka itu pertanda bahwa kadar ketakwaannya masih belum baik.

Takwa = Iman + Amal Saleh

Bagi orang yang ingin mendapatkan surga, modal beriman saja tidaklah cukup, karena surga hanya dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Ali Imran: 133). Itulah sebabnya, orang beriman masih diperintahkan oleh Allah untuk meningkatkannya menjadi ketakwaan, sebagaimana difirmankan Allah: “Hai orang-orang yang ber-iman, ber-takwa-lah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri” (Qs. Ali Imran: 102).

Maka apabila seseorang ingin menggapai surga Allah maka ia harus meningkatkan penghambaannya kepada Allah dari tingkatan yang paling dasar yaitu “Islam”, menjadi tingkatan “Iman”, hingga ke tingkatan puncak yaitu “Takwa”.

Untuk mencapai derajat takwa, maka orang yang telah beriman, yakni yang telah melaksanakan semua ibadah mahdhah (seperti shalat, zakat dan puasa), harus disertai pula dengan banyak berbuat kebajikan (beramal shaleh) kepada sesama manusia.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan pentingnya beramal shaleh disamping beriman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).

Dengan demikian maka bertakwa itu adalah beriman dan beramal shaleh.  Beriman itu dalam rangka hablum minallah (berhubungan baik dengan Allah), sedangkan beramal shaleh adalah dalam rangka hablum minan nas (berhubungan baik dengan sesama manusia).

Dalam Al-Qur’an surat Ali Imran 112, Allah SWT memerintahkan kita untuk berhubungan baik dengan Allah dan berhubungan baik pula dengan sesama manusia: “Dhuribat ‘alaihi mudh dhillatu ainamaa – tsuqifuu illaa bi hablim minallahi wa hablim minan naas”, artinya ditimpakan atas mereka “kehinaan” dimana saja mereka berada, kecuali kalau mereka berhubungan baik dengan Allah (hablum minallah) dan berhubungan baik pula dengan sesama manusia (hablum minan naas).